Tulisan menarik dari rekan baik saya, Rudolf Dethu dari Bali. I thought I’d share it with you all. Let me know what you think. Kerabat Puspawarna, Saya perhatikan belakangan ini berbondong-bondong orang di sekitar saya---kebanyakan anak muda---menggabungkan dirinya di Indonesia Unite, sebuah komunitas yang dibentuk untuk merespons peristiwa bom Ritz-Marriot 17 Juli 2009 sekaligus menyebarkan semangat anti terorisme. Saat tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 170 ribu orang menjadi anggota Indonesia Unite di Facebook. Komplit dengan limpah ucapan-ucapan berbau nasionalisme di Wall-nya. Sungguh mencengangkan lagi membanggakan bagaimana sejawat se-Nusantara membusungkan dada menunjukkan kecintaannya pada negara bernama Indonesia, bahu membahu melawan penjahat HAM berkedok agama bersenjatakan bom, seraya penuh patriotisme berteriak: Kami Tidak Takut! Kami tidak takut. Huh? Ini masalahnya. Saya kurang paham apa sejawat, sobat, kerabat, saya itu benar-benar tidak takut dengan bom yang mematikan tersebut. Saya pribadi mah masih sedikit menggigil merinding dan agak trauma dengan peristiwa mengerikan itu (ketika Bom Bali I saya berada hanya lusinan meter dari lokasi ledakan bom dan menyaksikan sendiri semburan api nan masif & merasakan gelegarnya yang gigantik). Hanya saja mungkin karena ledakan bom di negara ini sudah jadi makanan sehari-hari, makanya saya, dan mungkin juga rekan-rekan di Indonesia Unite, merasa bahwa peristiwa bom adalah semacam "same shit different day" alias sudah terbiasa. Nah, salahnya di situ: ledakan bom di negara ini sudah jadi makanan sehari-hari. Artinya, pemerintah belum melaksanakan tugasnya memberi rasa aman kepada publik. Aparat masih mandul dalam menunaikan kewajibannya melindungi rakyatnya dari ancaman teror. Bagi saya yang justru signifikan adalah mendesak pemerintah serta jajarannya untuk lebih serius membereskan carut marut terorisme di negeri ini. Jangan spontan grasa grusu reaktif pas habis kejadian aja---lalu tak lama kemudian adem ayem lagi. Tanpa kenal lelah kita desak terus aparat untuk melakukan penyelidikan yang lebih serius dan komperehensif---agar tak selalu muncul dengan teori "Noor Din M. Top ada di balik kejadian ini". Sementara kita semua jangan mau terus-terusan disuruh untuk lebih mengaktifkan lagi siskamling, membentuk Pam Swakarsa, apalagi berinisiatif sendiri melawan para teroris itu (bermodalkan kaos bersablonkan Indonesia Unite – Kami Tidak Takut). Enak aja. Emang pemerintah ngapain aja? Wong kita ini hidup aja masih susah. Mosok pas hari kerja harus jaga siskamling lagi? Kita harus pantang capek mengingatkan aparatur negara---dimulai dari Ketua RT---agar displin menjalankan tugasnya. Jangan sampai orang mau bikin KTP ganda bisa segampang itu. Jangan terus-terusan kita lagi kita lagi kita lagi yang jadi martir, diminta menggiatkan lebih intensif keamanan kampunglah, disarankan bergiliran berkeliling desalah, setiap minggu rapat untuk meningkatkan keamananlah. Belum lagi kemudian swasembada beramai-ramai membentuk paguyuban untuk melawan kemungkaran tersebut sambil gagah berani berdeklarasi: Kami Tidak Takut! Jangan mau. Jangan mau berkorban dikoyak bom (lagi). Enak aja. Emang pemerintah ngapain aja? Jika anda pikir anda adalah tipe nasionalis, yang harus dilakukan lebih utama, menurut saya, yang lebih tepat---dalam skala kecil---sekali lagi, adalah mengingatkan jajaran eksekutif, legislatif, yudikatif, siapa pun "di atas" sana, agar fokus menjalankan strategi yang lebih lancip, lebih runcing, lebih tajam, hingga aktivitas terorisme licin tandas hingga ke akar-akarnya. Jika sampeyan sempat mengeluh, "Kok orang Malaysia ngebomnya di Indonesia, bukannya di negaranya banyak juga orang-orang asing? Kenapa gak ngebom di situ aja?". Tanpa harus menjadi Einstein, jawabannya ultra gampang, "Karena di Negeri Jiran itu pemerintah beserta aparat keamanan berfungsi maksimal. Sejentik kegiatan berpotensi instabilitas keamanan, langsung dibabat habis". Sementara di negeri yang anda cintai ini, Abu Bakar Ba'asyir yang jelas-jelas berkoar hendak menegakkan Syariat Islam di Republik Indonesia (baca: re-pu-blik), dibiarkan saja bebas berkeliaran. Padahal niat tersebut terang benderang melanggar hukum, tindakan itu masuk kategori subversif. Dengan ruang gerak yang sebebas itu + law enforcement yang kurang optimal, Noor Din M Top---jika memang benar dia aktor intelektualnya---tentu lebih girang melaksanakan kegiatan bom sana bom sini di negeri yang anda banggakan ini... Sementara dalam skala besar saya pikir lebih nasionalis jika kita bahu membahu berkontribusi di bidang pendidikan, menggalakkan program "ayo belajar", menyumbang untuk pembangunan gedung-gedung sekolah, membikin orang-orang sekitar lebih pintar. Indonesia Unite meminta pemerintah membenahi sektor pendidikan. Jika orang Indonesia sudah pintar maka mereka tak akan gampang dikibuli oleh sosok semacam Imam Samudra---rekan-rekan kita di pedalaman sekali pun tak akan mudah lagi dirayu untuk menjadi "pengantin" demi menuju firdaus. Syekh Puji tak gampang lagi mengibuli orang-orang melarat. Jusuf Kalla + Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera gak semudah itu merajuk kita agar ikhlas mengakui Soeharto sebagai pahlawan. Pendeknya, ketika bangsa ini sudah pintar maka kita akan lebih pintar menyiasati isu kemiskinan. Saat bangsa ini telah relatif lebih sejahtera, logika lebih jalan, maka bangsa ini tak gampang lagi dimanipulasi sudut pandangnya.

Benar, bagi saya tindakan seperti itu justru lebih menunjukkan tingkat nasionalisme yang tinggi. Peduli pada bangsa sendiri, bertekad kuat mendongkrak harkat dan martabat bangsa sendiri adalah ekspresi Aku Cinta Indonesia yang paling nyata. Urusan menyerang Ambalat, demo di kedubes asing, menghasut anak-anak muda mengagresi "Malingsia", biar aja dilakukan oleh ormas-ormas sayap kanan. Biar aja mereka yang jumpalitan "membela negara"---dan mokat sia-sia. Kita yang berkehendak menjadi pintar ini lebih memprioritaskan konsolidasi ke dalam: banyak membaca buku, terus menggiatkan program "ayo belajar", menyumbang dana membangun gedung-gedung sekolah, berpartisipasi menciptakan intelektual-intelektual baru, segar, dan nihil kooptasi dari kumpulan cecunguk Orde Baru.  Well, barangkali saya memaknai "Kami Tidak Takut" terlalu literal. Bisa jadi "Kami Tidak Takut" punya arti lebih lebar. Jika memang begitu, saya mohon maaf. Hanya saja, jika boleh saya mengingatkan kembali: Bom itu bukan mercon. Bom bukan sekadar kompor mleduk. Bom adalah sebuah isu mengerikan. Jangan sembarangan berikrar "Kami Tidak Takut" sebab itu para teroris telah membuktikan bahwa mereka BENAR-BENAR tidak takut. Wong terbukti kok. ...Apalagi ketika waktu bertempur dengan teroris tiba, bukannya meraih bambu runcing---warisan jaman perang kemerdekaan yang dibekali oleh Babinsa untuk anda---lalu pasang kuda-kuda menghadapi musuh, yang anda lakukan terlebih dahulu justru memencet tombol Blackberry anda dan bergegas menulis di Twitter/Facebook: "sedang perang dengan noordin m top! #indonesia unite" atau "teroris ada di depan mata, kami tidak takut #indonesia unite"
atau "musuh datang doakan kami menang #indonesia unite" Sementara butir peluru musuh sedang melesat tepat menuju jidat anda, lemparan granat sudah tinggal beberapa sentimeter dari Blackberry anda... Oh, COME ON! This is a serious matter. Anda sebaiknya takut. Merdeka Menjadi Bianglala, RUDOLF DETHU Komponen Rakyat Bali *Karikatur semuanya karya Wahyu Kokkang.
 | ku urang dibales kieu Yan:
Poin yang tepat, Dethu. Menurutku, ini bukan saatnya melontarkan counter strike berupa slogan "Kami Tidak Takut". Indonesia Unite semestinya lebih menekankan kepada urusan sekitar kita. Yang lebih perlu dipikirkan adalah, jagalah keluarga dan kerabatmu.
Lihat, di televisi, ada banyak keluarga dan lingkungan terdekat dari orang-orang yang dipublikasi dan dicurigai sebagai teroris sama sekali tidak tahu menahu tentang keberadaan mereka. Silaturahminya sudah putus kah?
Jika memang benar demikian, wajar saja jika kita kerap kebobolan. Andai kita semua bisa saling jaga dan berpegangan tangan, rasanya, ancaman dari luar dan dalam bisa kita atasi sedini mungkin..
Ah ya, itu hanya menurut pemikiran saya yang sempit. Sebaiknya memang kita belajar dari kecolongan-kecolongan..
Salam, hagi |
 | baguss banget tulisan ini |
 | bagus banget ini tulisan!
gue sempet ngerespon tentang #indonesiaunite ini... apakah semua jadi nasional karena masalah bom ini aja? selain berani untuk ke mall, mungkin berani juga untuk membantu anak2x di indonesia yg kurang mampu, misalnya...
#indonesiaunite dcolorsofbenetton |
 | djant wrote on Jul 30, '09 bangsa kita memang terkenal latah An. termasuk juga pasukan blackberry yang disebutin Dethu. (gue ketawa baca bagian itu)
tapi juga apa yang dilakuin penggagas #indonesiaunite itu juga sah-sah aja. mereka pasti geram tapi gatau mau berbuat apa.
tinggal yang latah-latah ini nih yang pada bergelimpangan.
|
 | itbo wrote on Jul 30, '09 kemarin dulu abis peristiwa bom, gue diskusi sama mas trie, berarti profesi apa yang aman di indonesia kalo jadi pelayan restoran atau pegawai hotel berbintang aja bisa mati gara-gara bom. yang gue kemudian diskusikan juga gimana kalo peristiwa itu terjadi di deket kita ? ngasi pertolongan pertama pada kecelakaan aja ga bisa karena ga pernah diajarin, boroboro yang lain. ada yang tau dimana ada kursus singkat menghadapi kecelakaan, pemboman dan bencana alam ? emang harusnya lebih mikir gimana caranya biar dimasa depan ga kejadian lagi dan amit-amit kalo kejadian lagi, harus tau juga gimana minimal cara menolong orang terdekat dengan kita dan semoga bukan kitanya sendiri yang jadi korban. amit-amit. gue juga takut kok. trus kenapa ikutan # indonesia unite ? biar gaya ma trendi dan seragam ma yang lain aja ... |
 | aparatmati wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 30, '09 apa yang dilakuin penggagas #indonesiaunite itu juga sah-sah aja. mereka pasti geram tapi gatau mau berbuat apa.  gue pikir juga sah-sah saja, dan perlu mumpung teknologi dan percepatan informasi sudah begitu tinggi. tapi untuk kegiatan real-nya, mungkin tidak hanya slogan 'kami tidak takut' saja tapi seperti yang dilakukan pas kasus Prita Mulyasari. gerakannya tidak hanya sekedar informasi saja tapi dukungannya juga real sampai Prita Mulyasari bebas dari segala tuntutan.
|
 | betul banget... untungnya saya tidak pakai blackberry :) |
 | kita kan demennya slogan, wacana... dan sogokan.. hehe
|
 | " Kita yang berkehendak menjadi pintar ini lebih memprioritaskan konsolidasi ke dalam: banyak membaca buku, terus menggiatkan program "ayo belajar", menyumbang dana membangun gedung-gedung sekolah, berpartisipasi menciptakan intelektual-intelektual baru, segar, dan nihil kooptasi dari kumpulan cecunguk Orde Baru."
menambah orang pintar dan berbudi baik adalah benar adanya, harus dilaksanakan... tapi biasanya sih dinegara dunia ketiga, akan terhalang oleh jumlah kelahiran anak-anak yang terlalu banyak... bagusnya ada program KB lagi, biar beban mencerdaskan kehidupan bangsa bisa lebih ringan. |
 | tulisan ini bagus banget...
banyak dari kita yang gampang kena demam. Dari mulai demam obama, demam ambalat, sampe bom....sigh! |
 | aparatmati wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 30, '09 menambah orang pintar dan berbudi baik adalah benar adanya, harus dilaksanakan... tapi biasanya sih dinegara dunia ketiga, akan terhalang oleh jumlah kelahiran anak-anak yang terlalu banyak... bagusnya ada program KB lagi, biar beban mencerdaskan kehidupan bangsa bisa lebih ringan.  yaaa kalau pintar mah nggak akan mikir 'banyak anak banyak rejeki', Ric. :D pinter saja dulu. |
 | harus jalan bareng-bareng... pencerdasan dan kontrol jumlah penduduk. yg akhirnya pinter milih punya anak dikit, yang tetep bodoh akhirnya tetep punya anak banyak.
pada akhirnya jumlahnya keteteran juga. :p |
 | banyak anak memang banyak rezeki Yan. tapi, bukan dalam kondisi sedang melarat.. |
 | KAMI TIDAK TAKUT hanya sekedar wacana ato beneran tidak takut? kalo saya mah jujur takut banget ama teroris. Ga tau salah apaan, tiba-tiba di bom kan ngeri banget. Mestinya hal-hal begini jg nyampe ke pemerintah (aparat, presiden, dsb) jadi jangan cuman nampang di media doang ngasitau perkembangannya, tapi ga jelas kapan bisa menghentikan teror bom ini.
Mudah-mudahan Javarockingland berjalan lancar ya om! suatu bukti kalo hajatan pentas musik bisa terselenggara dengan aman di negeri kita ini :D |
 | karena setiap insan, membawa rezekinya masing-masing.. |
 | pemerintahan negara dunia ketiga seperti Indonesia ini sepertinya akan selalu menjegal upaya-upaya menambah orang pintar krn tdk menguntungkan buat mereka :D. sori kl terdengar terlalu pahit dan pesimis |
 | this is the point that i was looking for! ketika gema #indonesiaunite memenuhi wall home twitter, gw agak kebingunan dengan reaksi temen-teman yang sangat reaktif dengan gerakan ini. gw sempet berpikir apa gw nga nasionalis dan kurang peduli sama keadaan sosial di sekitar gw karena, nga pernah kepikir sedikit pun untuk ikut atau support gerakan ini. gw hanya berpikir sepertinya ada yang kurang 'sreg' menurut gw dengan cara yg mereka pake. di jaman sekarang nasionalisme mungkin sudah seharusnya dimaknai dalam aksi nyata bukan hanya slogan dan simbol. |
 | kutipan tulisan sendiri:
Suatu malam gue nggak sengaja ngomong sama seorang komisaris besar polisi soal bom. Gue inget banget kata-katanya yang nyelekit:
"Nggak usah ngomong sembarangan. Ngomong pake fakta yang kamu tahu aja. Faktanya apa? pertama bom itu ditaro di tempat yang udah pernah di bom. Kedua, korbannya serabutan dan nggak banyak--artinya bom itu nggak efektif. ketiga, masyarakat udah kebal. Kesimpulan yang bisa ditarik adalah,
(1) TERORIS ITU UDAH NGGAK PUNYA RUANG GERAK LAGI, KARENA KITA (polisi & Intel) SUDAH MEMANTAU DENGAN SANGAT KETAT.
(2) TERORIS ITU SUATU SINDIKAT YANG TERATUR DENGAN SANGAT RAPIH DAN BERTUJUAN MENCARI ORANG-ORANG BODOH YANG PUTUS ASA DAN MAU MATI. ADANYA TERORIS BISA MENJADI KEUNTUNGAN BAGI PIHAK TERTENTU DAN UNTUK KESTABILAN POLITIK PIHAK TERTENTU. TAPI YANG PASTI BUKAN ORANG KITA (INTEL INDONESIA). KITA NGGAK SEJAHAT ITU.
terus gue tanya, apa mungkin ini politik global luar negeri. dia bilang, "Apa lagi kalau bukan? siapa yang bisa manipulasi media dan otak manusia dengan agama serapih itu di dunia ini? tapi kalo ga ada bukti dan fakta nggak usah ngomonglah. Biar itu jadi urusan intel."
Wah, serem nih polisi. jawabannya dengan pertanyaan retorik yang bisa gue interpretasikan sebagai pengetahuan dia soal sistem terorisme global yang punya hubungan dengan counternya. kayak pembuat virus dengan perusahaan anti-virus...Kata-kata terakhirnya adalah: "coba kamu baca buku-buku soal intel. semua ada di situ.”
Dari sini menurut gue, ada beberapa hal yang sudah sangat rapih terkonspirasi dan harus terjadi tanpa bisa dibuktikan atau dicegah.
Terus masalah kekebalan masyarakat, temen gue, seorang wartawan kantor berita internasional, bilang gini soal liputannya di RS MMC:
"Gilee beneer, ada ibu-ibu yang anggota keluarganya kena cukup parah di Marriot, terus dia nangis meraung2. Pas SBY dateng, tangisnya berubah menjadi senyum, dan dia minta anggota keluarganya yang lain untuk memotret dia deket-deket (bukan bersama ) SBY, Yaoloh..."
Temen gue yang laen, yang kebetulan nyokapnya dirawat akibat demam berdarah di rumah sakit itu melaporkan hal lain:
"Gilee suster-suster... keadaan lagi panik, tiba-tiba tambah panik dengan kedatangan dokter bantuan dari luar bernama TOMPI. Mereka dengan noraknya foto-foto sama Tompi. yah, gue ikutan aja..."
Itulah masyarakat kita yang keracunan media bodoh. mereka lupa rasanya ketakutan. Lalu kita bisa apa donk? Kalo ini melibatkan kekuatan superpower yang tak kasat mata maka kita harus melihat bahwa musuh sebenarnya adalah media kapitalis indonesia dan orang-orang yang jadi mesin dan tak kritis di situ. Maka mari kita sebarkan pendidikan kritis media, dan yakin pada diri dan tindakan ktia sendiri bahwa:
KITA BENAR-BENAR TIDAK TAKUT! Kita tidak takut untuk mengkritik, membantu, mendidik, menyebarkan kebenaran yang sahih, dan kita tidak takut untuk membuat ekonomi stabil dengan bekerja dengan giat, dan berbelanja dengan cerdas....
tabik!
|
 | hahahaha.. jadi prosentase sialna leuwih loba tibatan untungna, Yan? kudu diruwat eta mah..
lamun overpopulasi solusina mah nya kudu nyingkah ti daerah eta. lagi pula, urang percaya dengan seleksi alam. hahahaha.. |
 | klo tanggapan saya mah...ambil saja yang positif2nya, buang negatif2nya..kalau pengartian kami tidak takut secara literal itu salah..yah jangan diambil..ambil saja baiknya..setidaknya pengusaha sablon bisa omzetnya naik nol sepersekian persen untuk mencetak kaos yang katanya "salah" secara literal itu...heheeuu
saya sendiri sangat takut..tapi entah kenapa saya sangat gengsi bilang takut..kadar dan artian nya sama seperti saya miskin tapi saya sangat gengsi sekali dibilang miskin..gak kebayang aja gitu kalau mengartikan semuanya secara literal dan saya menemukan kaos bertuliskan "indoneisaunite, kami sangat takut"..ongkoh unite, tapi naha sieun?bersatu dalam ketakutan gitu maksudnya?atau bersatu untuk kalah karena takut?kan jadina teu nyarambung..makanya kata saya mah jangan diartikan secara literal lah..lieur sorangan engkena..hehee
|
 | qronoz wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 30, '09 saya juga takut sama bom, tapi makna di balik "kami tidak takut" buat saya adalah "kami tidak akan membiarkan diri kami (sebagai bangsa Indonesia) terintimidasi atas ulah teroris yang baru aja terjadi kemaren"
triggernya udah ada kan dari ranah online, kalo emang bener2 latah sih paling kelar 17 agustus udah surut lagi nih topik #indonesiaunite, cuma yang bener2 niat bawa movement ini secara offline dan sosialisasiin yang ntar masih ada paling..
masing2 individu punya kapabilitas yang beda2 untuk kasih kontribusi gerakan ini, yang jago bikin lagu pada bikin lagu, yang suka bikin tulisan bisa bikin artikel2, yang tukang jual kaos/pin ikutan kontribusi juga, toh dengan gitu orang yang belom tau pasti bertanya2 apa sih #indonesiaunite ini, dan dari situlah seseorang jadi duta #indonesiaunite. bukan untuk suatu komunitas, bukan untuk suatu organisasi, bukan untuk kumpulan orang yang koar2 di twitter/fb doang, tapi untuk bangsanya sendiri: INDONESIA.
kalo yang punya kerjaan di instansi pemerintahan, ya kenapa nggak juga mulai terlibat di movement ini sesuai dengan kapasitasnya. gw sendiri cuma mahasiswa biasa, bukan aktivis apa2, ya gw coba spread tentang apa sih pesen yang disampein dari movement ini ke temen2 gw.
masih banyak cara lagi yang bisa kita tunjukin, gw sempet baca tentang penjualan kaos #indonesiaunite yang disablon dari kaos2 pedagang kecil yang rencananya dijual waktu pertandingan MU, padahal mereka udah sampe jual motor dan cari pinjeman sana sini. see? banyak hal yang bisa kita bikin dan lakuinlah sesuai kapabilitas kita. |
 | hmm.. gw sendiri gak ikutan gerakan itu tapi kalau menurut gw, tindakan teman2 di indonesia unite itu menunjukkan kalau mereka tidak takut akan ancaman2 teror itu bukan berarti mereka tidak takut bom, tapi mereka lebih kepada semangat untuk ikut menjaga stabilitas negara hal ini juga dilakukan teman2 di india pada waktu peristiwa mumbai tujuan pelaku jelas hanya untuk menyebar teror, karena menurut gw timing peledakan bom masih terlalu pagi.
gw sangat setuju soal sangat pentingnya pendidikan bagi bangsa ini, tapi bukan cuma pendidikan, tapi lebih juga kepada semangat asli welas asih bangsa ini, kalau cuma pendidikan, pelaku mumbai itu sarjana lho
kalau soal partisipasi rakyat untuk keamanan negara, itu memang grand desain sistem pertahanan kita, jumlah tentara dan polisi kita jelas sangat tidak seimbang dengan luas wilayah dan populasi karena itu sistem pertahanan kita didesain dengan bentuk sistem pertahanan rakyat semesta
menurut gw, apapun bentuk responnya selama itu mempunyai dampak positif untuk bangsa ini kayaknya sah sah saja, iya kan?
kalau soal ikut2an, hehehehe itu dimana2 juga ada bahkan mahasiswa2 yg nongkrongin mpr tahun 98 juga banyak yg cuma ikutan trend heheheh
menjadi indonesia |
 | aparatmati wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 30, '09 hmm. sebenarnya tulisan Dethu ini lebih ke mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus ini [dan lainnya]. gue pikir gerakan [kalau bisa disebut sebuah pergerakan] Indonesia Unite ini didorong untuk lebih mendesak pemerintah dan aparat lebih serius, ketimbang mencoba menenangkan masyarakat dengan 'gembong teroris jaringan internasional' Noordin On Top, ups, M Top or whoever. kita juga nggak pernah tahu sebenarnya si On Top ini beneran ada apa nggak sih? atau ini konspirasi pemerintah atau musuh negara kalaupun ada? atau ini konspirasi kapitalis? ataukah ini fase awal penyerbuan alien? :D dan masih banyak pertanyaan lain sehubungan dengan hal ini. Dethu sama sekali tidak mempertanyakan gerakan Indonesia Unite, tapi mungkin mengkritisi slogan 'Kami Tidak Takut' yang seperti biasa, lebih menjadi slogan saja ketimbang menjadi sebuah gerakan yang real bukan sesuatu sifatnya yang reaktif saja. but I still have hopes. :)
@qronoz: betul, semua orang bisa terlibat sesuai dengan kapasitasnya. gue sepakat. tapi gue nggak pernah sepakat 'menjadi mahasiswa biasa bukan aktivis' itu berkesan tidak mampu melakukan hal lebih. :D
@fitorio: - gue rada nggak ngerti dengan semangat asli welas asih bangsa dengan kejadian yang sedang dibahas. bagaimana ya maksudnya? pelaku mumbai dengan pendidikannya kayaknya nggak nyambung ya konteksnya. kan yang dibahas pendidikan memang masih kurang disini untuk mencapai solusi bangsa ini, kalau orang jahat mah ya yang pinter juga banyak yang jahat kali. :D selama pendidikan belum merata di negara ini, demokrasi mah tidak akan berjalan. yang ada manipulasi. ;) - kalau grand design sistem pertahanan kita masih menggunakan bentuk sistem pertahanan semesta, menurut gue sudah usang dong. itu rasanya cocok semasa perjuangan kemerdekaan. satu bangsa mempunyai musuh yang jelas, penjajah. sekarang, masyarakat seperti digunakan, ditunggangi juga untuk masalah politik. pada akhirnya bukan untuk kesejahteraan rakyat. it's probably their war, never mine or us. |
 | 2 hari setelah si #indonesiaunite ini, gue dan uga pernah komen. Rasa nasionalis yang ada di pasukan blackberry dan #indounit ini merupakan suatu loyalitas semu. Coba saja klub raksasa Manohara United tidak kemari, coba saja Phoenix tidak dijadwalkan pentas, coba saja tidak ada event rock raksasa yang diseponsori oleh rokok lokal yang mendatangkan MEW, Mr Big, Vertical Horizon dan Third Eye Blind. Mungkin tidak akan seheboh ini.
Coba deh, deep inside pasti karena si Mano United, Phoenix, MEW dan kawan-kawan. Sangat disesalkan tragedi ini hanya H -2 dari si Mano United, 2 minggu sebelum Phoenix, dan 3 minggu sebelum Rock Tanah Jawa.
Jujur, hal pertama yang gue pikirkan setelah menonton siaran langsung Metro TV pukul 8:00 di hari itu adalah: "ANJING! ARTIS LUAR GAK JADI DATENG SEMUA!". Gue gak mencoba untuk sok suci, tapi itulah hal pertama di otak gue. Apalagi gue dan kantor kecipratan proyek dari si Rock Tanah Jawa yang notabene adalah bonus sebelum sebelum masuk bulan ramadhan. Yah THR deh..
Itulah yang disebut loyalitas semu. Tidak murni karena rasa sayang atau cinta kepada tanah air. Lebih baik kita berkaca dulu. Karena bulan agustus ini adalah bulan yang baik untuk menumbuhkan rasa nasionalis dan merupakan bulan yang baik karena akan memasuki bulan puasa. (?)
|
 | Dear aparatmati, salam kenal saya Hanna.. Menumpang untuk memberikan komen..
Berbeda dengan banyak komen diatas yang memuji tulisan yang anda post saya justru bersebrangan. Poin yang bagus memang kalau semangat dan gerakan indonesiaunite ini seharusnya lebih mengedepankan kepedulian terhadap pendidikan di Indonesia. Saya amat sangat setuju dengan poin itu.
Tapi, concern saya adalah.. Disaat kita sedang berusaha mendapatkan rasa aman dari negara kita sendiri.. Disaat sedang panik ketakutan akan ancaman bom.. tulisan ini malah "menghembuskan" aura negatif sebuah semangat yang diusung oleh indonesiaunite. Saya bukan aktifis indonesiaunite. Sama sekali bukan. Tapi saya melihat semangat mereka yang positif. Itu sebuah gerakan ko bukan kelompok geng ataupun komunitas. Itu cuman sebuah reminder yang saya yakin dihembuskan oleh siapapun yang pertama dalam tujuan yang positif. Sekedar mengingatkan rasa kecintaan dan nasionalis sama Indonesia bahwa kita semua bagian dari Indonesia yang bisa memberikan kontribusinya sekecil apapun untuk kemajuan Indonesia.
Beberapa orang termasuk saya mungkin baru bisa berolahraga jari di blackberry kami dengan menulis kata puitis sok bijak dan cinta indonesia di twitter, facebook dan jejaring lainnya. Mungkin semangat nasionalis saya (dan mereka yang senang ber-indonesiaunite di twitter dan fb) baru bisa diapresiasikan melalui jejaring tersebut. Maafkan karena baru itulah kontribusi yang bisa kami berikan.. Yang dimulai dari niat yang positif dan mengharapkan dapat diterima dengan postif pula.. Bukan dengan sebuah argumen berlawanan yang bernuansa nyinyir dan memojokan (dibaca: negatif).
Sekali lagi maaf jika kata-kata saya ada yang menyinggung. Tidak bermaksut membuat suatu perdebatan. Hanya mengharapkan sebuah respon positif akan sebuah niat yang postif juga. Hidup Indonesia. Hidup indonesiaunite. Indonesia bersatu doong..
Mari.. Salam,
Hanna |
 | aparatmati wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 30, '09 halo Hanna. salam kenal juga.
tulisan diatas bukan memojokkan gerakan Indonesia Unite kok. ;) I'm in for all the positivity too, and I believe Dethu's in for it, too. |
 | qronoz wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 30, '09 thanks you for your insights, dethu :) yang mau gw sampein itu sebenernya malah kebalikannya, maksudnya jangan pernah underestimate kapabilitas kita masing2, *bentuk penyampaian gw salah sepertinya yah, maklum bukan tukang nulis :D* let's get involved, whoever you are :) pick your cause for indonesiaunite ;) http://dondihananto.posterous.com/pick-your-cause-for-indonesiaunite |
 | sebenernya ada pendapat yang lebih cynic lagi yan. tapi ndak enak ah diumbar disini. ntar malah jadi ricuh =D |
 | pemerintah negeri ini bikin gue males jadi nasionalis :p
dosa-dosanya terlalu banyak untuk disebutin, sungguh beruntung rakyatnya sabar dan nggak banyak ngeluh, udah dirugiin terus aja masih bisa bilang 'masih untung...bla bla'
huh |
 | journalin wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 30, '09 Rame yah di sini, panjang banget komen2nya Apa perlu yah pelatihan Waspada Bom? Semacam pelatihan Waspada Gempa dan Kebakaran di Jepang gitu. Tindakan2 apa yang harus dilakukan saat terjadi ledakan (apalagi ini ada dua bom di tempat yang berseberangan), P3K, jalur evakuasi korban, harus melapor siapa (klo panik kan suka mendadak kosong), klo sebagai korban juga harus ngapain saat itu (misalnya tergantung luka parah, ringan). Soalnya klo aku jadi korban atau ada di sekitar lokasi pasti aku syok dulu. Klo aparat keamanan juga musti diarahkan pemeriksaannya biar efektif. Penjagaan emang keliatannya aja heboh, padahal mah cuek. Dulu aku pernah wawancara satpam di mall terus dia bilang alat pendeteksinya itu cuma formalitas, padahal mah dia seleksi tampang. Klo perempuan bawa tas kecil gak usah diperiksa. Kalau laki2 rapi juga ga usah.
Aku tadi ngobrol sama orang yang kerja di Mega Kuningan terus nanya mereka ngapain pas ada bom, ternyata jawabnya, "Pada keluar motret pake BlackBerry terus hasil fotonya dijual sama media. Banyak (media massa) yang beli mahal loh." Oooooh my |
 | Bagus banget! Speechless. Gak tahu mau setuju apa nggak. Pokoknya... bagus banget. |
 | chikalicia wrote on Jul 30, '09, edited on Jul 31, '09 tulisan yang bagusss.... kayanya #indonesiaunite juga penting sih, walaupun pergerakannya baru sebatas iphone, blackberry dan hp canggih lainnya. tapi, setidaknya mereka mencoba menumbuhkan rasa nasionalisme walau cuma setetes di masyarakat. menurut saya sih itu penting mengingat banyak sekali orang yang sudah tidak lagi memiliki rasa nasionalisme (dengan alasan apapun). slogan "kami tidak takut" mungkin untuk menumbuhkan rasa berani untuk berjuang, daripada takut dan sembunyi?
tulisan dethu bagus, karena mengingatkan kita, bahwa ini tak berhenti di rasa nasionalis yang mulai tumbuh saja, tapi juga tindakan nyata. karena ini benar-benar BERBAHAYA! dan MENGERIKAN tapi tidak akan ada tindakan apa-apa selain kabur dan sembunyi bila mereka tak punya rasa nasionalisme.
mari saling mendukung :)
|
 | we got tweets and shout as our guns and they got bombs as their tweets.
rakyat yang terlalu kolektivis, dan kalap teknologi memang berusaha untuk menyatakan kepeduliannya, tetapi gw rasa - seperti yang tertulis di atas - bahwa ada kegiatan yang lebih penting lagi, yaitu kerja nyata dari mereka yang seharusnya bertanggung jawab.
|
 | *Wih, rupanya sedang menjadi pembicaraan hangat* Sejawat sekalian, terima kasih banyak atas atensi atas tulisan saya ini. Agar tidak bolak-balik menjelaskan sudut pandang saya, ini saya copy-paste dari baku cakap antara saya dengan rekan saya, Nanda Sukma, di milis SuicideGlamNation. Intinya, Nanda menyayangkan caci maki saya terhadap pemerintah, kenapa saya apatis terhadap IndonesiaUnite, juga kekurangsetujuan saya terhadap so-called Siskamling. Untuk versi yang lengkap berisikan foto silakan simak: http://www.facebook.com/note.php?note_id=108241884914&id=1406070073&ref=nf#/note.php?note_id=111790359449 Untuk Arian, nuhun pisan udah mendistribusikan pemikiran ini. ____________________ Nanda sayang, saya gak pernah bilang bahwa saya gak hormat dengan apa yang Indonesia Unite lakukan. Justru saya bangga mereka bisa mengumpulkan orang sebegitu melimpah lalu bersama-sama mendeklarasikan kecintaannya pada Indonesia. Pula, saya nihil caci maki kok kepada pemerintah dan aparat di catatan yang saya tulis itu. Coba deh sayangku Nanda simak lebih holistik, you won't find any. Frase paling ofensif yang saya pakai sekadar "cecunguk" doang. Selebihnya masih relatif sopan kok. Nanda sayang, mungkin Nanda aja yang keliru menginterpretasikan kalimat-kalimat yang saya tulis. Jika jernih mencernanya, tulisan saya cenderung mempertanyakan keseriusan aparat, mendesak agar pemerintah lebih disiplin dalam law enforcement. Saya mah ogah untuk "berani mati" jika ternyata pemerintah tidak terkesan serius mengurus geliat terorisme yang seolah tak bisa diredam ini. Buat saya itu bukan perbuatan patriot. Saya menolak untuk berteriak "Kami Tidak Takut" saat saya tahu bagaimana Polisi Yang Terhormat & Pengadilan Yang Agung justru lebih galak menghukum anak-anak kecil yang dicurigai main judi. Saya emoh berinisiatif bersatu bersama kawan-kawan melawan teroris sebelum saya yakin banget bahwa aparat sudah konsentrasi penuh membasmi kemungkaran berkedok agama ini. CCTV dibiarkan nelongso tak terurus, metal detector sekadar pajangan, petugas administrasi masih gampang diajak cincai, jika kualitasnya masih segitu-segitu doang, no way, saya abstain bergabung dalam komunitas sukarelawan menolak terorisme. Itu, menurut saya, sama dengan bunuh diri. Oh, mengenai urusan Siskamlling dsb, well, tanpa disuruh pemerintah pun, begitu bom mleduk, kita semua pasti spontan bakal langsung amatiran membentuk sistem keamanan terpadu dengan maksud mengurangi kemungkinan masuknya oknum mencurigakan ke lingkungan kita. Cuman, sejatinya urusan Siskamling, Pam Swakarsa, macem begini kan bukan menjadi bagian ultra signifikan dalam hidup kita. Yang punya kewajiban ngurusin keamanan ya aparat keamanan: polisi—dibantu hansip—untuk isu stabilitas domestik, dan tentara untuk perkara eksternal. Polisi akan bekerjasama dengan tentara sesekali, jika memang perlu. Masyarakat umum kayak kita ini mah, cukupin waktu istirahat, tidur cepet pas hari biasa lalu esok paginya berangkat kerja dengan tubuh segar pikiran benderang. Cari duit, ngidupin keluarga, itu yang utama. Coba bayangin, tadi malemnya begadang gara-gara Siskamling, besok paginya emang bisa gitu kita bekerja maksimal, mempersembahkan yang terbaik ke perusahaan tempat kita kerja? Pasti tidak. Coba buka cakrawala lebih lebar, di luar negeri emang pernah gitu liat orang Siskamling? Nanda sayang tahu gak kenapa bisa muncul kebiasaan Siskamling di negeri yang Nanda cintai ini? Pertama mungkin karena orang kita memang terbiasa gotong royong, apa-apa dikerjain sendiri. Kedua ya gara-gara kurangnya jaminan rasa aman dari yang berwenang. Nah, kalau yang berkompeten (baca: pemerintah) tersimak mandul dalam memberikan rasa aman, siapa dong yang harus kita tagih lagi? Ya diri kita sendiri—bergabung bersama sejawat lain agar lebih solid... Saya yakin, Nanda sayang, seandainya orang-orang itu boleh memilih, pasti mereka lebih memilih bersenda gurau dengan keluarga di rumah lalu berangkat tidur lebih pagi agar istirahat cukup buat kerja besok daripada ngejalanin Siskamling. Back to the main topic, saya pikir akan lebih baik segitu melimpah simpatisan Indonesia Unite itu digiring untuk melakukan tindakan yang lebih nyata. Misalnya ya itu tadi, dorong pemerintah agar lebih serius ngurusin jedar-jedur bom ini. Benar, targetnya jelas: pemerintah. Jangan kita mulu yang jadi martir. Jangan malah kita yang berada di garis depan berhadapan langsung dengan terorisnya: ramai-ramai memakai kaos Indonesia Unite - Kami Tidak Takut, kepala berikatkan pita merah putih, di tangan kanan memegang bambu runcing warisan jaman penjajahan sumbangan Babinsa setempat, di tangan kiri mengepit Blackberry. Dan begitu mujahid nekat sekelas Dulmatin, Asmar Latin Sani, Ali Ghufron, dkk, berlari kencang mendekati anda dengan rompi berlapis bom... yang anda lakukan malah: menaruh sebentar bambu runcing kebanggaan bangsa Indonesia itu di tanah, dan lebih memilih mengaktifkan Blackberry anda lalu menulis di Twitter/Facebook, like: "dr blitz megaplex lgsg tempur lawan teroris #indonesiaunite" atau "ngopi di social house harvey nichols trus perang #indonesiaunite" atau "blm sempet ktemu klien x noordin m top kami tidak takut #indonesiaunite" ...Sementara itu, para pengantin-yang-sedang-menuju-firdaus berjarak tinggal sejengkal dari anda dan rekan-rekan anda yang sedang fokus bin seksama van komperehensif-holistik mengetik tuts Blackberry... BLUSSS!!! (wih, untung saja bom gagal meledak, cuman muncrat tipis-tipis...) Nanda sayang, this TNT thing, is a very very very serious matter. Ayo belajar! Rajin ke sekolah! Aktif membaca! Mari menjadi bangsa yang pintar & bermartabat! Mulai cintai dan hargai Indonesia dengan benar! Sebaiknya Anda Takut, RUDOLF DETHU Komponen Rakyat Bali ____________________ ...Sekali lagi, rekan-rekan, ini soal bom, bukan mercon, bukan kompor mleduk. Ini soal terorisme. Ini isu ganas dan mengerikan. Tak sekadar perkara nulis status---dan menjadi pseudo superstar---di Twitter dan Facebook. Ini soal ledakan gigantik yang telah terjadi berulang kali dan menewaskan banyak manusia tak berdosa. Ini kejahatan terhadap kemanusiaan. Ini tidak sesederhana bagi-bagi kaos, bunga, dan pin... |
 | nah... jadi buat kalian yang kebanyakan ngenet makan gaji buta dan main game online:
BANGUN! BANGUN! sana keluar kerja. perbaiki sekeliling kalian, jangan cuma liat2 multiply atau mengkritik doang....
gue juga cabut ah. kerja lagi membuat perbaikan! nice aufklarung! |
 | On a lighter note, saya tidak anti Blackberry dan iPhone atau sejenisnya. Ini cuman gara-gara saat saya berpelesir ke Facebook Wall-nya IndonesiaUnite, impresi yang muncul, kalau boleh saya jujur, kebanyakan berhenti di tingkat "look, mom, I'm on TV!". IndonesiaUnite ini jadi sekadar ajang fun, bersenang-senang, nih-lihat-gue-sudah-peduli-pada-bangsa-ini-dan-gue-sudah-berkoar-ke-seluruh-dunia-bahwa-gue-cinta-banget-ama-indonesia-eh-ada-masih-ada-kaos-lebih-gak-sih type thing. Maka itu saya jadi berpikir, jangan-jangan pas beneran berhadap-hadapan dengan The Mighty Dulmatin, yang ada ya gitu: Blackberry first, Dulmatin second... "mom, its me vs dulmatin #indonesiaunite"
Saya tidak menggunakan Blackberry atau iPhone karena alasan berbeda. Wong teknologi jika kita mampu gunakan dengan bijak, indeed, it'll become your deadly weapon. Di era baheula Napoleon pernah bilang "The pen is mightier than a sword". That pen is your friggin' Blackberry! |
 | Ini sebenarnya gerakan yang telah cukup lama ada di luar negeri (www.werenotafraid.com). Terutama di negara yang pernah terkena teror bom. Saat London kena teror Bom, logo "underground" di London diganti menjadi "we are not afraid". Semacam gerakan "semangat" untuk tetap beraktifitas walau tetap waspada. Sebagian besar mungkin hanya ikut-ikutan akan hal ini. Tapi pemikiran dari Arian saya setuju,:
"Kalau dari 170.000 orang kemudian ada dampak positif, dan let's say 1000 orang menjadi aktivis atau apapun yang membuat bangsa ini maju terpicu dari kasus ini, i think it's good. seperti ketika indie menjadi mainstream dan semuanya mendadak indie tapi memperkaya scene musik lokal dengan musik berkualitas, then it's all good. "
Ada yang latah dan benar-benar latah, ada pula yang latah namun peduli berbuat sesuatu. Glenn Fredly seminggu lalu datang ke kantor saya. Ingin minjam temat untuk lokasi konser. Mereka mau bikin konser amal. Akan menyuarakan keprihtinan pada aparat yang belum serius soal teroris dengan konon sang dalang dan kambing berwarna hitam bernama Noordin yang sangat nge-Top itu terus sebagai kata kunci. Dana dari konser ini yang terkumpul akan diberikan pada korban ledakan. Itu saya pikir salah satu tindakan yang nyata dari gerakan ini.
Ini saya kutip dari website mereka. www.wearenotafraid.com yang bermarkas di London dengan anggota tersebar di beberapa negara.
We are not afraid to ride public transportation. We are not afraid to walk down a crowded street. We are not afraid of each other.
We are not afraid to say that terrorism in any form is never the answer. We’re not afraid is an outlet for the global community to speak out against the acts of terror that have struck London, Madrid, New York, Baghdad, Basra, Tikrit, Gaza, Tel-Aviv, Afghanistan, Bali, and against the atrocities occurring in cities around the world each and every day. It is a worldwide action for people not willing to be cowed by terrorism and fear mongering.
The historical response to these types of attacks has been a show of deadly force; we believe that there is a better way. We refuse to respond to aggression and hatred in kind. Instead, we who are not afraid will continue to live our lives the best way we know how. We will work, we will play, we will laugh, we will live. We will not waste one moment, nor sacrifice one bit of our freedom, because of fear.
We are not afraid.
|
 | @fitorio: - gue rada nggak ngerti dengan semangat asli welas asih bangsa dengan kejadian yang sedang dibahas. bagaimana ya maksudnya? pelaku mumbai dengan pendidikannya kayaknya nggak nyambung ya konteksnya. kan yang dibahas pendidikan memang masih kurang disini untuk mencapai solusi bangsa ini, kalau orang jahat mah ya yang pinter juga banyak yang jahat kali. :D selama pendidikan belum merata di negara ini, demokrasi mah tidak akan berjalan. yang ada manipulasi. ;) - kalau grand design sistem pertahanan kita masih menggunakan bentuk sistem pertahanan semesta, menurut gue sudah usang dong. itu rasanya cocok semasa perjuangan kemerdekaan. satu bangsa mempunyai musuh yang jelas, penjajah. sekarang, masyarakat seperti digunakan, ditunggangi juga untuk masalah politik. pada akhirnya bukan untuk kesejahteraan rakyat. it's probably their war, never mine or us.  begini mas arian kan bli dethu bilang bahwa pendidikan perlu ditingkatkan agar tidak ada lagi rakyat indonesia yang bisa dikibuli oleh orang2 semacam imam samudera, nah disini gw cuma membandingkan, kalo cuma pendidikan saja, pelaku mumbai itu sarjana lho, jadi kalo cuma pendidikan saja gak cukup, ini kan konteksnya tentang bagaimana mencegah kejadian terorisme terulang, jadi gw tidak menyambungkan dg demokrasi, pendidikan perlu dibarengi oleh nilai2 welas asih bangsa indonesia dimana kita itu sebenarnya terbuka thd keyakinan yg berbeda, hal ini terlihat dari sejarah nenek moyang kita dimana budha dan hindu dapat hidup berdampingan bahkan ketika islam masukpun mereka dapat hidup damai, itu sebelum paham wahabi masuk. itu maksud gw
terus soal grand design sistem pertahanan kita, itu bukan usang mas, tapi memang itu kebijakan kita yg mendesain TNI sebagai kekuatan defensif bukan ofensif. skrg jg musuhnya jelas kok, org2 yg punya paham untuk membubarkan NKRI, dulu juga musuh kita bukan semua bule, lebih dari separuh kekuatan penjaajah itu dari saudara2 sebangsa kok jadi menurut gw yg namanya musuh kita itu tetap saja sama jelasnya, dulu ataupun sekarang cuma sayangnya sekarang hal ini sering jadi pembenaran bagi TNI untuk menutupi kekurangan mereka
sekali lagi, orang2 macam imam samudera, dan begundal2nya itu wajib untuk dilawan, dengan cara apapun, sesuai dengan kapasitas kita kalau ada teman yg melawan dg media indonesia unite, silahkan kalau dethu ingin melawan dengan cara meningkatkan pendidikan, manggaaa kalau ada yg ingin melawan dengan cara bagi2 kaos dan bunga juga sah2 saja bahkan tulisan teman2 disini bisa merupakan bentuk perlawanan kan? |
 | positif aja kali yaa... ariaaann...happy bday yaakkk!!
btw, komponen rakyat bali itu apa? |
 | Oya selamat ulang tahun Howling Wolf's Daddy |
 | yah hari ini kita unite dulu buat merayakan ulang tahun Howling Wolf's Daddy..cheers!! |
 | for whatever reason #indonesiaunite was first intended to be, it has become a beauty pageant...meminjam slogan clasmild, mendingan talk less do more... |
 | daylights wrote on Aug 2, '09, edited on Aug 2, '09 duh telat komen. gw agak berbeda pandangan sedikit dengan mas Dethu mengenai slogan yang berbunyi "Kami Tidak Takut".
kalo menurut gw,ini bukan dalam konteks mensimplifikasikan pengertian nasionalisme, dll walopun terlihatnya seperti itu. Tentunya kalo konteksnya nasionalisme dll sampe tindakan pemerintah dalam penegakan hukum dll, gw setujulah dengan pendapat mas Dethu (maaf gak bisa pinpoint yg mana, karena saya skimming through the article, hehehe), memang banyak aspek yang harus dipikirkan, banyak hal yang mesti dilakukan, dll. Kita harus kritis jangan superficial thinking.
Konteks movement ini lebih kepada psikologi massa sih, IMHO. Inti dasar terorisme itu kan untuk menyebarkan rasa takut. Rasa takut itu sangat potent, dari skala kecil kita jadi takut ke tempat umum ato naik transportasi umum, gak PD kalo mau apply visa (huehe), jadi sensi kalo di singled out di imigrasi negara tertentu (lho ini curcol) sampe ke skala yg paling besar misalnya masyarakat jadi pecah belah (curiga mencurigai), hilang kepercayaan dengan pemerintah secara total setotalnya sehingga mo bunuh diri :-p, no..yg bener sampe negara jadi keaadaan bahaya gitu karena misalnya jadi ada mass unrest di seluruh pelosok nusantara (tsah) akibat ekses dari terorisme ini.. anyways, intinya terorisme itu cara paling ampuh untuk melumpuhkan suatu negara/bangsa.
Seperti komen dari adibadib, movement ini bukan sesuatu yang baru. di negara2 yg pernah kena teror bom ini memang sudah dilaksanakan, dan pada dasarnya gw dukung gerakan2 seperti ini, kenapa? (karena gw trendy dong *hueks*).
No seriously, menurut gw, everything is in the "mind". Movement untuk mengembalikan kepercayaan diri kita setelah kita tersakiti secara psikologis harus menggunakan metode psikologi juga. Movement yg pake catchy slogan kaya gini memang bagian kecil dari the whole big thing that we gotta do for this country, tapi karena ini relevansinya ama the recent bombing, motivasinya menurut gw lebih kepada memberikan semangat, menunjukkan rasa solidaritas, mempersatukan mereka2 yg memiliki pandangan yg sama terhadap terorisme, dll. Kalo "ekses" (Lho kok ekses?) jadi ada unsur2 nasionalisme, merah putih dll, ya it's given aja gitu, but it's not the main idea. I think, we gotta regard this movement as the movement that encourages Indonesians to have the same frame of mind regarding terrorism. So, I think it's a good cause with good intention. Tapi tentunya there's a lot more to do, so we can't just stop in slogan! :-)
|
 | To be honest, I have been united sejak nonton pertandingan tim nasional Indonesia di Senayan bertahun-tahun yang lalu. Stadion full house, semuanya komunikasi satu arah; mendukung tim nasional Indonesia.
Ketika pada akhirnya kalah, saya bisa legowo. Kenapa? Karena saya sudah berjuang dalam porsi saya mendukung tim nasional kita.
Sesederhana itu saja, lebih real dukungannya.
Kemaren, kebetulan ada satu conference yang mendatangkan Pandji sebagai pembicara. Saya ada di situ. Pandji bilang bahwa dia bukan penggagas slogan #indonesiaunite itu. Dia hanya mengopi seseorang di Twitter yang --entah sengaja atau tidak-- memasang status dengan akhirnya #indonesiaunite.
Menurutnya juga, ini bukan sebuah gerakan terstruktur yang punya hirarki dan gerakan nyata. Gerakan ini lebih ke arah gerakan moral yang ujung-ujungnya hanya menggugah rasa orang Indonesia bahwa seharusnya kita semua bersatu untuk menghadapi teroris.
Setiap orang berhak melakukan interpretasinya masing-masing dan berkontribusi dengan cara apapun yang menurut dia benar.
Sayangnya, semuanya semacam balik lagi ke mentalitas kita keseluruhan sebagai bangsa. Kita yang terlibat di dalam diskusi ini bisa dibilang adalah komunitas super minor yang ada di negara ini.
Seperti sudah disinggung di atas, dari beratus-ratus ribu orang yang punya atensi akan 'gerakan' ini, berapa sih yang kepikiran ide nyata?
Sesederhana ini aja contohnya, ada ide yang berusaha membuat orang-orang yang buat kaos Manchester United bajakan kemaren balik modal. Kampanye yang digunakan adalah, "Help our street vendors!"
Mereka sudah keluar duit untuk produksi kaos, eh acaranya nggak jadi. Celakanya, kebanyakan adalah 'orang kecil' yang cuma pengen kebagian durian runtuh kedatangan Manchester United di Indonesia. Akhirnya kaos tersebut dipergunakan sisi baliknya dan disablon ulang #indonesiaunite.
Sebuah situs toko online menjual kaos tersebut seharga Rp.50.000,00.
Pernah datang ke stadion? Pernah nonton bola di stadion? Tau pasaran harga kaos di stadion berapa? Paling banter Rp.25.000,00. Tambahin deh sama ongkos sablon satu warna.
Lalu kaosnya dijual Rp.50.000,00?
Untung lagi. Standar, namanya kesempatan dalam kesempitan. Mumpung orang sedang berapi-api, dihajar deh kesempatan bisnisnya.
Gue sepakat sepenuhnya sama Pandji kalo kita melakukan satu hal konkrit sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.
Masalahnya, negara ini secara keseluruhan nggak bisa diajak berpikir kolektif seperti itu.
Rasa persatuan, merah-putih, lambang garuda, dan ketakutan, selalu ada di dalam dada saya. Mereka berdampingan di dalam sana dan sama sekali tidak dibiarkan keluar.
Gembar-gembor sama sekali nggak punya guna. |
 | semua ini gara2 Facebook, Twitter, Blackberry & iPhone... ;P |
 | Adib brotherman serta rekan daylights, dalam konteks terorisme ini saya berkeyakinan bahwa penanganannya di tiap negara harus berbeda. Di negara miskin dan masyarakatnya kebanyakan berpendidikan rendah dimana penderitaan dan kekerasan adalah bagian integral dari keseharian, yang publik paling butuh salah satunya adalah penegakan hukum yang tegas, dan kalau perlu keras---tentu dengan tetap mempertimbangkan aspek HAM. Contoh misalnya Srilangka. Orang-orang di situ sudah tidak perlu lagi manuver psikologi massa sejenis "Kami Tidak Takut" dan sebangsanya. Mereka itu tak punya pilihan selain berdiri tegak dan melanjutkan hidup. Sebab jika tidak opsi yang tersisa cuma tinggal: kelaparan lalu mati. Social security? Ah, mana bisa pemerintah Srilangka menyediakan privilese begituan. Yang paling krusial adalah bagaimana saat mereka mengais rejeki untuk sekadar survive, ritual tersebut tidak terganggu. Dengan jaminan keamanan segitu aja, saya yakin, mereka sudah relatif cukup bahagia kok. Dan yang pemerintah Srilangka lakukan, salah satunya dengan agresif memburu Macan Tamil dan membasminya habis, wih, itu sudah menumbuhkan harapan besar serta menjadikan mereka lebih positif menjalani hidup + membangkitkan kepercayaan terhadap aparat pemerintah.
Negara macam Pakistan & Indonesia yang notabene kesehariannya juga keras, tingkat survivalnya sudah luar biasa. Sudah hampir tak perlu lagi psikologi massa semacam "Kami Tidak Takut". Sebab jika mereka takut mereka tidak makan, mereka akan mati kelaparan. Kalau di negara-negara sejahtera mah silakan aja mereka ber-psikologi massa "We Are Not Afraid". Dengan jaminan keamanan yang solid, urusan sandang-pangan-papan relatif terpenuhi (kalau dia pengangguran bisa menyandarkan harapan sementara pada Social Security), privilesenya sudah sebegitunya ya "Kami Tidak Takut" cocok-cocok aja. Indonesia? Social Security? Ada sih: Bantuan Langsung Tunai. Agak lumayan, memang, tapi masih jauh dari cukup. Di negara ini, dimana kasus Lapindo semata dipandang sebagai bencana alam biasa dan pemerintah sama sekali tak tampak serius menanganinya (bayangkan kalau belasan distrik tenggelam di AS, wih, 1x24 jam tuh helikopter CNN berkeliling mengitari lokasi dan menjadi sebuah berita maha besar nan mega mengguncang. Oprah Winfrey makin doyan "playing angel" kemudian bikin edisi khusus "Fight for Lapindo" tiap minggu), hampir tiap bulan terjadi cacah tubuh a.k.a. mutilasi, Syekh Pudji masih dianggap suci, Soeharto dianggap pahlawan, saya pikir yang orang inginkan---dalam konteks terorisme---adalah ditangani seperti Srilangka ngurusin Macan Tamil: persempit ruang gerak, kerahkan pasukan terbaik, tekan tanpa jeda, serbu, lalu habisi. Tumpas licin tandas hingga ke akar-akarnya.
Oh, saya yakin psikologi massa "We Are Not Afraid" itu pernah didengar oleh kontingen Manchester United (dan bukan tidak mungkin mereka merupakan salah satu penandatangan petisi tersebut). Tapi ketika bom mleduk di Jakarta apa mereka lalu memutuskan untuk tetap datang ke negeri kebanggaan IndonesiaUnite---dalam rangka ikut mengobarkan api semangat "Kami Tidak Takut"?
Sekali lagi, saya tidak pernah bilang bahwa IndonesiaUnite itu salah. Saya hanya menyayangkan, gerakan ini seharusnya bisa lebih tajam-basmi-habisi seperti "Bebaskan Prita Mulyasari"...
Bersulang, RUDOLF DETHU
*PS: Ada yang nanyain Komponen Rakyat Bali itu apa. KRB adalah sebuah gerakan di Bali yang dibentuk dalam rangka penolakan Undang Undang Pornografi. Berdiri sejak 2006. Sekarang sedang menyusun judicial review.
Men |
 | daylights wrote on Aug 5, '09, edited on Aug 5, '09 hello beli suicidaldethu, as I said, I agree with your opinion on how to better handle the situation, etc.
but I don't think it's within their capacity to do such stuff, the movement is not a structured or official institution or what have yous, seperti yg dijelaskan mas pelukislangit yang ketemu dengan salah satu penggagasnya. so I think it's a different animal with your presented case studies on Srilanka.
IMHO, banyak jalan menuju Roma. banyak cara untuk membantu.untuk skala yang lebih luas, seperti contoh Srilanka, I think most of the responsibility on doing so, should be burdened to government dan law enforcement.they are the one who should THINK, STRATEGIZE and IMPLEMENT whatever it is to PROTECT their citizens. kalo ada movement yang bisa mengencourage masyarakat dan pemerintah untuk melakukan itu, well, mungkin itu harus movement yang lebih terstruktur, terorganized dengan perencanaan yang lebih matang. mungkin yang dilakukan beli Dethu di Bali bisa jadi sample *wink.
we are not afraid movement kan timbulnya awalnya dari twitter, dan kenapa ini bisa jadi big, karena (1) jumlah pengguna internet di Indonesia juga semakin tinggi, (2) rata2 pengguna internet itu dari kalangan menengah ke atas dan tinggal di kota2 besar. karena itu movement ini memang lebih "appealing" ke mereka, karena mereka suit to those types that I mentioned, juga karena terorisme mengincar daerah2 strategis dimana kelas menengah dan kelas atas lah yang jadi targetnya.Don't think they'd aim kali Ciliwung misalnya, karena it does not suit with their big scheme of "propaganda". that's why they're aiming 'symbolized' targets: the WTC, London Underground, Bali-heavily populated tourist spots, Jakarta-CBD.
If you remember, begitu bom itu meledak, there were thousands of rumors spreading around, yang katanya bakal ada bom lagi di 40 titik, ada 8 mall jadi target, dll. terus terang at that time, Jakarta jadi sepi sejenak, orang2 pada takut keluar. kalo kondisi dibiarkan terus2an begitu, ya perputaran roda ekonomi juga bisa tersendat dong. kalo movement yang bisa cater SETIAP lapisan masyarakat dan dalam scope yang lebih luas dan terstruktur ya it should be something yang lebih organized seperti yg sudah saya bahas diatas tadi.
soal ManU yang gak jadi ke sini dan dihubungkan dengan movement we are not afraid, I think it's a different logic, I mean, movement itu kan pada dasarnya "design"nya untuk memberikan semangat kepada setiap orang untuk tidak takut tinggal di rumah sendiri. soalnya kalo kita udah takut tinggal di rumah sendiri, it's going to be hell everyday, right.kalo kejadiannya di luar negara mereka, well they have a choice not to face it. why be a martyr? :-D
|
 | buat bli dethu, kalo saya boleh menambahkan cara penanganan terorisme menurut saya berbeda bukan tergantung negaranya, tapi tergantung jenis kelompoknya itu sendiri
kalo contohnya srilanka, kelompoknya jelas, teroganisasi, tujuannya ingin memisahkan diri, titik. cara penanganannya ada 2, kompromi atau habisi. macan tamil punya tujuan yg sama dg GAM dan OPM, kita melakukan pendekatan nomer 1 untuk kasus GAM
kalau JI, ini masalahnya soal pola pikir dan keyakinan memang benar kalau kemiskinan adalah salah satu faktor terbesar dalam mendukung berkembangnya habitat persemaian ide2 terorisme, tapi perlu diingat, pelaku pemboman MRT di london dan pelaku di mumbai itu dari golongan menengah yang terdidik untuk jenis terorisme seperti ini, musuhnya abstrak, oke memang kita tahu wajah noordin, tapi kita tidak tahu perkembangan jaringan pendukungnya, siapa mereka dan bagaimana wajah mereka persoalan ini lebih kompleks pola pikir harus dilawan dengan pola pikir juga
kalau fenomena indonesia unitenya si panji ini sepertinya lebih kepada, golongan menengah di indonesia ingin berbuat seusatu berkenaan dengan maraknya terorisme di indonesia, tapi tidak tahu bagaimana cara menyalurkannya, kebetulan muncul gerakan ini, itu saja
kalau kenapa gerakannya tidak bisa seperti prita, jelas beda bangsa kita itu sangat suka memihak yg lemah, di kasus prita, siapa musuhnya jelas, bisa dicari dengan mudah, dan prita posisinya pihak yg lemah kalau indonesia unite, musuhnya teroris yang bahkan polisi sendiri belum bisa menangkap cuma kalau menurut saya, adanya gerakan moral ini menunjukkan bahwa bangsa indonesia tidak sepenuhnya apatis, dan itu kan sesuatu hal yg bagus
trus bli dethu bilang kalo psikologi massa tidak dibutuhkan di indonesia, tapi itu bekerja dg baik utk kasus prita kan? hehehehe trus gimana dong itu? |
 | Terlepas dari berbagai beda pendapat dan diskusi yang menarik ini, venue kami di Rolling Stone Indonesia pada tanggal 16 Agustus 2009 akan dipakai untuk deklarasi dari mereka yang mengatasnamakan Indonesiaunite. Sebanyak 19 band akan terlibat dalam acara ini. Namun semua yang mengatur adalah Glenn Fredly, Panji & tim. Kami cuma menyediakan tempat. Paling tidak mereka telah berbuat sesuatu. Dan rencananya mereka akan mengundang media untuk mengkomunikasikan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Jika ada yang di Jakarta silakan mampir. |
| |